Yudistira
Yudistira (Dewanagari: युधिष्ठिर; IAST: Yudhiṣṭhira) alias
Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam
wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah
kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di
Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima
Pandawa, atau para putra
Pandu. Dalam tradisi
pewayangan, Yudistira diberi gelar
prabu dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama
Kerajaan Amarta.
Etimologi
Nama
Yudistira dalam
bahasa Sanskerta bermakna "teguh atau kokoh dalam peperangan". Dalam kitab
Mahabharata, ia juga disebut dengan nama
Bharata[1] (keturunan Maharaja
Bharata) dan
Ajatasatru[2] Ia juga dikenal dengan sebutan
Dharmaraja, yang bermakna "raja
Dharma", karena ia selalu berusaha menegakkan
dharma sepanjang hidupnya.
Beberapa julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah
Kururaja (कुरुराज, "pemuka bangsa
Kuru"),
Kurunandana (कुरुनन्दन, "kesayangan
Dinasti Kuru"), Kurupati (कुरुपति, "raja
Dinasti Kuru"),
Pandawa (पान्दव, "putra
Pandu"), Parta (पार्थ, "putra
Prita atau
Kunti").
Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya
Arjuna,
Bisma, dan
Duryodana.
Selain nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa masih terdapat
beberapa nama atau julukan yang lain lagi untuk Yudistira, misalnya:
Puntadewa ("derajat keluhurannya setara para
dewa"),
Yudistira ("pandai memerangi nafsu pribadi"),
Gunatalikrama ("pandai bertutur bahasa"),
Samiaji ("menghormati orang lain bagai diri sendiri").
Kelahiran
Yudistira adalah putra tertua pasangan
Pandu dan
Kunti, raja dan ratu dari kalangan
Dinasti Kuru, dengan pusat pemerintahan di
Hastinapura. Kitab
Mahabharata bagian pertama (
Adiparwa) mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu setelah membunuh
brahmana bernama Resi
Kindama tanpa sengaja. Brahmana itu terkena panah Pandu ketika ia dan istrinya sedang
bersanggama dalam wujud sepasang
rusa.
Menjelang ajalnya tiba, Resi Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa kelak
ia akan mati ketika bersetubuh dengan istrinya. Dengan penuh penyesalan,
Pandu meninggalkan takhta
Hastinapura dan memulai hidup sebagai pertapa di hutan untuk mengurangi hawa nafsu. Kedua istrinya, yaitu
Kunti dan
Madri
dengan setia mengikutinya. Setelah lama tidak dikaruniai keturunan,
Pandu mengutarakan niatnya untuk memiliki anak. Kunti yang menguasai
mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil
dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan
Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putra darinya tanpa melalui
persetubuhan. Putra pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putra sulung
Pandu, sebagai hasil pemberian
Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan.
Kisah dalam
pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana
Hastinapura. Kedatangan
Bhatara Dharma
hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya.
Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun
Kunti.
Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan
nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi
ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang
merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu
menegakkan kebenaran.
Masa muda dan pendidikan
Yudistira dan keempat adiknya, yaitu
Bima (Bimasena),
Arjuna,
Nakula, dan
Sadewa kembali ke
Hastinapura setelah ayah mereka (
Pandu) meninggal dunia. Pada waktu itu, Hastinapura dipimpin oleh
Dretarastra, kakak Pandu yang buta.
[3] Kelima putra Pandu—yang terkenal dengan sebutan para
Pandawa—membuat sepupu mereka, yaitu para putra Dretarastra (seratus
Korawa yang dipimpin
Duryodana) merasa iri.
Bisma (sesepuh Dinasti Kuru) dan
Widura
(perdana menteri) lebih menyukai Yudistira daripada putra Dretarastra,
sehingga Duryodana merasa cemas apabila Yudistira berhasil dinobatkan
sebagai putra mahkota. Duryodana berusaha menyingkirkan kelima Pandawa,
terutama Bima yang dianggap paling kuat. Di lain pihak, Yudistira selalu
berusaha untuk menyabarkan Bima supaya tidak membalas perbuatan para
Korawa.
Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari
ilmu agama,
hukum, dan
tata negara daripada
Resi Krepa.
Dalam pendidikan tersebut, Yudistira tampil sebagai murid yang paling
pandai. Krepa sangat mendukung apabila tahta Hastinapura diserahkan
kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu, Pandawa dan Korawa berguru ilmu
perang kepada
Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini,
Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu
memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih terampil dalam menggunakan
senjata tombak.
Pembakaran Laksagraha
Selama
Pandu hidup di hutan sampai akhirnya meninggal dunia, tahta
Hastinapura untuk sementara dipegang oleh kakaknya, yaitu
Dretarastra, ayah para
Korawa.
Ketika Yudistira menginjak usia dewasa, sudah tiba saatnya bagi
Dretarastra untuk menyerahkan tahta kepada Yudhisthira, selaku putra
sulung Pandu sekaligus pangeran tertua di kalangan Dinasti Kuru.
Sementara itu,
Duryodana berusaha keras merebut takhta dan menyingkirkan
Pandawa. Dengan bantuan
Sangkuni
(paman dari pihak ibu), Duryodana pura-pura menjamu kelima sepupunya
itu dalam sebuah gedung di Waranawata. Gedung itu sendiri terbuat dari
bahan yang mudah terbakar, dan oleh arsiteknya (
Purocana) disebut
Laksagraha, artinya "Rumah Lilin". Ketika malam tiba, para
Korawa membakar gedung tempat para
Pandawa dan
Kunti,
ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri karena
rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu
Widura
adik Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos dari
maut. Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman sulit.
Pernikahan
Setelah selamat dari konspirasi pembunuhan oleh
Duryodana dan
Sangkuni, para Pandawa dan Kunti pergi melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal sementara di
kerajaan Panchala.
Arjuna berhasil memenangkan
sayembara di kerajaan tersebut dan memperoleh seorang putri cantik yang bernama
Dropadi.
Tanpa sengaja Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima. Akibatnya,
Dropadi pun menjadi istri kelima Pandawa. Dari perkawinan dengan
Yudistira, Dropadi melahirkan Pratiwindya.
[4] Istri keduanya bernama Dewika, putri Gowasana dari
suku Saibya, dan memiliki putra bernama Yodeya.
[5]
Versi
Jawa
menyebut Dropadi dengan nama "Drupadi". Menurut pewayangan Jawa,
setelah memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu kepada
Puntadewa selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun setelah
didesak oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia menikahi
Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putra bernama
Pancawala. Jadi, menurut versi asli, tokoh
Dropadi menikah dengan kelima
Pandawa, sedangkan menurut versi
Jawa, ia hanya menikah dengan Yudistira seorang.
Raja Indraprastha
Setelah menikahi
Dropadi, para
Pandawa kembali ke
Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak
Duryodana.
Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas takhta Hastinapura kembali
terjadi. Para sesepuh akhirnya sepakat untuk memberi Pandawa sebagian
dari wilayah kerajaan tersebut. Korawa mendapatkan istana Hastinapura,
sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk
membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan
angker, namun para Pandawa bersedia menerima wilayah tersebut. Selain
wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah
kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum
Hastinapura. Para Pandawa dibantu sepupu mereka, yaitu
Kresna dan
Baladewa, dan berhasil membuka Kandawaprastha menjadi pemukiman baru. Para Pandawa kemudian memperoleh bantuan dari
Wiswakarma, yaitu ahli bangunan dari kahyangan, dan juga Anggaraparna dari bangsa
Gandharwa. Maka terciptalah sebuah istana megah dan indah bernama
Indraprastha, yang bermakna "kota Dewa Indra".
Pemerintahan Yudistira versi pewayangan Jawa
Pembangunan kerajaan Amarta
Dalam versi
pewayangan Jawa, nama
Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan
kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para
Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta.
Versi Jawa mengisahkan, setelah
sayembara Dropadi, para
Pandawa tidak kembali ke
Hastinapura melainkan menuju
kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu
Matsyapati
berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa
menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama
Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh
berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima bersaudara, bernama
Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan
Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan.
Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan
Wanamarta kepada para
Pandawa.
Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam
jin ke alam nyata untuk dihuni para
Pandawa.
Setelah itu, ia dan keempat adiknya menghilang. Salah satu versi
menyebut kelimanya masing-masing menyatu ke dalam diri lima Pandawa.
Puntadewa kemudian menjadi Raja Amarta setelah didesak dan dipaksa oleh
keempat adiknya. Untuk mengenang dan menghormati raja jin yang telah
memberinya istana, Puntadewa pun memakai gelar Prabu Yudistira.
Anugerah Ketentraman
Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras untuk
memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang
bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi
Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan
sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki seorang
istri saja. Namun karena
Dropadi
mengizinkannya menikah lagi demi kemakmuran negara, maka ia pun
berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul
sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten.
Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci,
dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian
Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa.
Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan
anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan
kesejahteraan negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama
Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat
sebagai
patih di kerajaan Amarta.
Upacara Rajasuya
Kitab
Mahabharata bagian kedua atau
Sabhaparwa mengisahkan niat Yudistira untuk menyelenggarakan upacara
Rajasuya demi menyebarkan
dharma dan menyingkirkan raja-raja angkara murka.
Bima,
Arjuna,
Nakula, dan
Sadewa memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru
Bharatawarsha
(India Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara
agung tersebut. Pada saat yang sama, seorang raja angkara murka juga
mengadakan upacara mengorbankan seratus orang raja. Raja tersebut
bernama
Jarasanda dari
kerajaan Magadha. Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan didampingi
Kresna sebagai penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya, melalui sebuah pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.
Setelah semua persyaratan terpenuhi, Yudistira melaksanakan upacara
Rajasuya yang dihadiri sekian banyak kaum raja dan pendeta. Dalam
kesempatan itu, Yudistira ditetapkan sebagai
Maharajadhiraja. Kemudian muncul seorang sekutu Jarasanda bernama
Sisupala
yang menghina Kresna di depan umum. Setelah melewati penghinaan ke-100,
Krishna akhirnya memenggal kepala Sisupala di depan umum.
Permainan dadu
Lukisan dari
Punjab, dibuat sekitar
abad ke-18, menggambarkan suasana aula permainan dadu antara
Pandawa dan
Korawa. Tampak dalam gambar,
Dropadi yang berusaha ditelanjangi oleh
Dursasana. Di sebelah kiri bawah, tampak kelima
Pandawa sedang diam menerima kekalahannya.
Ketika menjadi tamu dalam acara
Rajasuya,
Duryodana sangat kagum sekaligus iri menyaksikan keindahan istana
Indraprastha. Timbul niatnya untuk merebut kerajaan itu, apalagi setelah ia tersinggung oleh ucapan
Dropadi dalam sebuah pertemuan.
Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan memanfaatkan kegemaran Yudistira terhadap permainan
dadu. Yudistira memang seorang ahli
agama, namun di sisi lain ia sangat menyukai permainan tersebut. Undangan Duryodana diterimanya dengan baik. Permainan dadu antara
Pandawa melawan
Korawa diadakan di istana
Hastinapura.
Mula-mula Yudistira hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun semuanya jatuh
ke tangan Duryodana berkat kepandaian Sakuni dalam melempar dadu.
Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua hartanya, bahkan
Indraprastha.
Akhirnya, negeri yang dibangun dengan susah payah itu pun jatuh ke
tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap mata juga mempertaruhkan
keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya pun jatuh pula ke tangan
Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya Yudistira sendiri. Duryodana
tetap memaksa Yudistira yang sudah kehilangan kemerdekaannya untuk
melanjutkan permainan, dengan mempertaruhkan
Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.
Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan umum terdengar oleh
Gandari, ibu para
Korawa. Ia memerintahkan agar Duryodana menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada
Pandawa.
Dengan berat hati, Duryodhana terpaksa mematuhi perintah ibunya itu.
Duryodana yang kecewa kembali menantang Yudistira beberapa waktu
kemudian. Kali ini peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah harus
menyerahkan negara beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan selama
12 tahun serta menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan. Apabila
penyamaran itu terbongkar, maka wajib mengulangi lagi pembuangan selama
12 tahun dan menyamar setahun, begitulah seterusnya. Akhirnya berkat
kelicikan Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan untuk yang kedua
kalinya. Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi menjalani masa
pembuangan mereka di hutan.
Kehidupan dalam Pembuangan
Kehidupan para
Pandawa dan
Dropadi dalam menjalani masa pembuangan selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada jilid ketiga kitab
Mahabharata yang dikenal dengan sebutan
Wanaparwa.
Yudistira yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa
keluarga dan negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani
hukuman. Ia sering berselisih paham dengan
Bima yang ingin kembali ke
Hastinapura untuk menumpas para
Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai perjanjian.
Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi
menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan
kaum Gandharwa yang dipimpin
Citrasena. Dalam peristiwa itu
Duryodana
tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima
dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri
apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu
berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk
menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar
biasa yang ia rasakan.
Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan
Dropadi oleh
Jayadrata,
adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan
hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja
kerajaan Sindu tersebut.
Peristiwa telaga beracun
Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang
brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor
rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima
Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh
Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali,
Nakula disuruh menyusul, kemudian
Arjuna, lalu akhirnya
Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.
Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah
telaga. Ada seekor bangau (
baka)
yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat
Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab
pertanyaan darinya. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang
bangau untuk bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud menjadi
Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa pada Yudistira:
Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada
langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada
gundukan jerami?
Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih
luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan
kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.
Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?
Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib
adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.
Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?
Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang
dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan
keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.
Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?
Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat.
Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia
adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina
adalah yang tidak mengenal pengampunan.
Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?
Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar
berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang
masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang
lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak
pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi
yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas,
tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah
jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi
kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan
malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan
sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan
itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.
Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup
menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula
untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri,
bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil.
Ayahnya, yaitu
Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari
Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putra yang lahir dari
Madri, yaitu Nakula. Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu
Dewa Dharma.
Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk
memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan
Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan
juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.
Penyamaran di Matsya
Setelah 12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima
Pandawa dan
Dropadi kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat persembunyian, mereka memilih
Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh
Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab
Mahabharata jilid keempat atau
Wirataparwa. Yudistira menyamar dengan nama Kanka sebagai seorang brahmana yang mengajari Raja
Wirata
permainan dadu. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak, Arjuna
menjadi Wrihanala sebagai banci guru tari, Nakula menjadi Damagranti
sebagai tukang kuda, Sadewa menjadi Tantripala sebagai penggembala sapi,
sedangkan Dropadi menjadi Sailandri sebagai dayang istana.
[7]
Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa serangan
kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan
kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara
kerajaan Trigartha, sekutu
Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura.
Utara putra
Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (
Arjuna)
sebagai kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil
menghadapi pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil
memukul mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu, pasukan
Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan
bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para
Korawa
seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan
Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul
kepala Kanka sampai berdarah.
Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernama
Matsyapati.
Dalam kerajaan tersebut, Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai
pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka. Saat batas waktu
penyamaran telah genap setahun, kelima
Pandawa dan
Dropadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu,
Wirata
merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun
berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali
takhta
Indraprastha.
Yudistira saat Bharatayuddha
Ketika para
Pandawa pulang ke
Hastinapura demi menuntut hak yang seharusnya mereka terima,
Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia tidak mau menyerahkan
Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh
Duryodana.
Bahkan, Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima
buah desa saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana
berusaha membunuh duta Pandawa, yaitu
Kresna, namun gagal.
Perang di Kurukshetra antara Pandawa dan Korawa tidak dapat lagi dihindari. Para pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan nama
Bharatayuddha. Sementara itu dalam
Mahabharata kisah perang besar tersebut ditemukan pada jilid keenam sampai kesepuluh.
Saat berperang, kereta Yudistira dihiasi panji-panji bergambar bulan
emas yang dikitari planet-planet. Dua genderang yang diberi nama Nanda
dan Upananda diikat di tiangnya.
Awal pertempuran
Pada bagian
Bhismaparwa
dikisahkan bahwa sebelum perang hari pertama dimulai, Yudistira turun
dari keretanya berjalan kaki ke arah pasukan Korawa yang berbaris di
hadapannya. Duryodana mengejeknya sebagai pengecut yang langsung
menyerah begitu melihat kekuatan Korawa dan sekutu mereka. Namun,
kedatangan Yudistira bukan untuk menyerah, melainkan meminta doa restu
kepada empat sesepuh yang berperang di pihak lawan. Mereka adalah
Bisma,
Krepa,
Drona, dan
Salya. Keempatnya mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu saja membuat Duryodana sakit hati.
Yudistira kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang
ingin pindah pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang
pindah justru adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama
Yuyutsu, yang bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama Pandawa.
Pertempuran melawan Drona
Bisma memimpin pasukan
Korawa selama sepuluh hari. Setelah ia tumbang, kedudukannya digantikan oleh
Drona, yang mendapat amanat dari
Duryodana
supaya menangkap Yudistira hidup-hidup. Drona senang atas tugas
tersebut, padahal niat Duryodana adalah menjadikan Yudistira sebagai
sandera untuk memaksa para pendukungnya menyerah. Berbagai cara
dilancarkan Drona untuk menangkap Yudistira. Tidak terhitung banyaknya
sekutu Pandawa yang tewas di tangan Drona karena melindungi Yudistira,
misalnya
Drupada dan
Wirata.
Akhirnya pada hari ke-15, penasihat Pandawa, yaitu
Kresna menemukan cara untuk mengalahkan Drona, yaitu dengan mengumumkan berita kematian seekor gajah bernama
Aswatama.
Aswatama juga merupakan nama putra tunggal Drona. Kemiripan nama
tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk menipu Drona. Atas perintah
Kresna,
Bima
segera membunuh gajah itu dan berteriak mengumumkan kematiannya. Drona
cemas mendengar berita kematian Aswatama. Ia segera mendatangi Yudistira
yang dianggapnya sebagai manusia paling jujur untuk bertanya tentang
kebenaran berita tersebut. Yudistira terpaksa bersikap tidak jujur. Ia
membenarkan berita kematian Aswatama tanpa berusaha menjelaskan bahwa
yang mati adalah gajah, bukan putra Drona. Jawaban Yudistira membuat
Drona jatuh lemas. Ia membuang semua senjatanya dan duduk ber
meditasi. Tiba-tiba saja
Drestadyumna putra
Drupada
mendatanginya dan kemudian memenggal kepalanya dari belakang. Drona pun
tewas seketika. Dalam peristiwa ini yang paling merasa bersalah adalah
Yudistira.
Pertempuran melawan Salya
Pertempuran Yudistira melawan
Salya. Ilustrasi dari
Mahabharata terbitan Gorakhpur Geeta Press.
Salya adalah kakak ipar
Pandu yang terpaksa membantu
Korawa karena tipu daya mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh
Duryodana. Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.
Naskah
Bharatayuddha berbahasa
Jawa Kuno mengisahkan bahwa
Salya memakai senjata bernama Rudrarohastra, sedangkan Yudistira memakai senjata bernama
Kalimahosaddha. Pusaka Yudistira yang berupa kitab itu dilemparkannya dan tiba-tiba berubah menjadi tombak menembus dada Salya.
Sementara itu menurut versi
pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu Candabirawa berupa
raksasa
kerdil mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak.
Puntadewa maju mengheningkan cipta. Candabirawa lumpuh seketika karena
Puntadewa telah dirasuki arwah
Resi Bagaspati, yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa melepaskan
Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya pun tewas seketika.
Tantangan bagi Duryodana
Setelah kehabisan pasukan,
Duryodhana bersembunyi di dasar telaga. Kelima
Pandawa didampingi
Kresna
berhasil menemukan tempat itu. Duryodana pun naik ke darat siap
menghadapi kelima Pandawa sekaligus. Yudistira menolak tantangan
Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat pengecut dengan cara main
keroyok, sebagaimana para
Korawa ketika membunuh
Abimanyu
pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan bertarung satu
lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa. Apabila ia
kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa. Sebaliknya
apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.
Bima
terkejut mendengar keputusan Yudistira yang seolah-olah memberi
kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi, padahal kemenangan Pandawa
tinggal selangkah saja. Dalam hal ini Yudistira justru menyalahkan Bima
yang dianggap kurang percaya diri. Duryodana meskipun bersifat angkara
murka namun ia juga seorang pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan
perang tanding, yang paling gagah di antara kelima Pandawa. Setelah
pertarungan sengit terjadi cukup lama, akhirnya menjelang senja
Duryodana berhasil dikalahkan dengan dipukul titik kelemahannya, yaitu
paha. Ini sekaligus menuntaskan sumpah Bima yang akan membunuh Duryodana
karena penghinaannya terhadap Dropadi. Balarama marah dan bertekad
untuk membunuh Bima karena paha merupakan sasaran yang terlarang dalam
duel gada, namun diperingatkan oleh Kresna bahwa Bima hanya berusaha
menjalankan sumpahnya. Duryodana pun tewas secara perlahan setelah
saling bersilat lidah dengan Kresna.
Maharaja dunia
Setelah perang berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk
memuliakan mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja
Hastinapura sekaligus raja
Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima
Dretarastra sebagai raja
sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para
Korawa tersebut, namun Bima selalu saja menyinggung
Dretarastra akan perbuatan anak-anaknya sehingga sang raja sepuh pun lengser dari takhta Hastinapura.
Yudistira kemudian menyelenggarakan
Aswamedha Yadnya, yaitu suatu upacara pengorbanan untuk menegakkan kembali aturan
dharma di seluruh dunia. Pada upacara ini, seekor
kuda dilepas untuk mengembara selama setahun.
Arjuna
ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal kuda tersebut.
Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda tersebut harus
memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi. Arjuna mengirim
pasukan ke daerah utara, Bima ke timur, Nakula ke barat dan Sadewa ke
selatan. Akhirnya setelah beberapa pertempuran, semua kerajaan memilih
membayar upeti. Sekali lagi Yudistira pun dinobatkan sebagai Maharaja
Dunia setelah Upacara Rajasuya dahulu.
Pengunduran diri
Lukisan penjemputan Yudistira dan anjingnya oleh Dewa
Indra. Dari kitab
Mahabharata terbitan Gorakhpur Geeta Press.
Setelah permulaan zaman
Kaliyuga dan wafatnya
Kresna,
Yudistira dan keempat adiknya mengundurkan diri dari urusan duniawi.
Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat keterikatan untuk
melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi
Bharatawarsha lalu menuju puncak
Himalaya.
Di kaki gunung Himalaya, Yudistira menemukan anjing dan kemudian hewan
tersebut menjdi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat mendaki
puncak, satu per satu mulai dari
Dropadi,
Sadewa,
Nakula,
Arjuna, dan
Bima
meninggal dunia. Masing-masing terseret oleh kesalahan dan dosa yang
pernah mereka perbuat. Hanya Yudistira dan anjingnya yang berhasil
mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.
Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput Yudistira untuk diajak naik ke
swarga
dengan kereta kencananya. Namun, Indra menolak anjing yang dibawa
Yudistira dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak suci dan tidak layak
untuk masuk swarga. Yudistira menolak masuk swargaloka apabila harus
berpisah dengan anjingnya. Indra merasa heran karena Yudistira tega
meninggalkan saudara-saudaranya dan Dropadi tanpa mengadakan upacara
pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau
meninggalkan seekor anjing. Yudistira menjawab bahwa bukan dirinya yang
meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkan dirinya. Kesetiaan
Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli yaitu Dewa
Yama atau batara dharma, ayahnya.
[11]
Indra menunjukkan keadaan neraka kepada Yudistira. Ilustrasi karya Eveyn Paul (1911).
Yudistira dan dewa dharma naik ke surga menggunakan kereta Indra.
Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada justru
Duryodana
dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara murka. Indra
menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya sedang
menjalani penyiksaan di
neraka.
Yudistira menyatakan siap masuk neraka menemani mereka. Namun, ketika
terpampang pemandangan neraka yang disertai suara menyayat hati dan
dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur dari
neraka, Yudistira berhasil menguasai diri. Terdengar suara
saudara-saudaranya memanggil-manggil. Yudistira memutuskan untuk tinggal
di neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama
sudara-saudaranya yang baik hati daripada bergembira di surga namun
ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi
indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa sekali lagi Yudistira lulus
ujian, karena waktunya yang sebentar di Neraka adalah sebagai penebus
dosa ketidakjujuran Yudistira terhadap Drona soal kematian Aswatama. Ia
menyatakan bahwa sejak saat itu, Pandawa Lima dan para pahlawan lainnya
dinyatakan sebagai penghuni Surga, sementara para Korawa akan menjalani
siksaan yang kekal di neraka.
Menurut versi pewayangan Jawa, kematian para
Pandawa terjadi bersamaan dengan
Kresna ketika mereka ber
meditasi di dalam
Candi Sekar. Namun, versi ini kurang begitu populer karena banyak
dalang yang lebih suka mementaskan versi
Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana dikisahkan di atas.